Terima Kasih Liliyana

Rabu, 09 Januari 2019 14:55:55

 

Majalahbulutangkis.com- Sejak sebulan sebelum digelarnya ajang Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, 22-27 Januari 2019, perasaan Liliyana Natsir seperti berkecamuk.

Ada kegundahan yang begitu dalam di relung hati Liliyana di saat ia ingin menutup karirnya sebagai seorang pebulutangkis profesional.

Ia memang sudah melontarkan ucapan ingin menjadikan Daihatsu Indonesia Masters 2019 sebagai pentas terakhirnya. "Tegangnya melebihi waktu mau bertanding di Olimpiade," ungkap Liliyana di pengujung Desember lalu.

Mungkin lebih tepat galau mengenai apa yang dirasakan Liliyana saat ini. Harus berpisah dengan sesuatu yang teramat dicintai, tentu, bukan perkara mudah. Bulutangkis adalah bagian dari jiwa Liliyana. Ia rela tinggalkan kota kelahirannya di Manado sejak usia 12 tahun menuju Jakarta demi mewujudkan impiannya menjadi pebulutangkis papan atas dunia.

Semua mimpi-mimpinya pun telah berhasil ia wujudkan. Nyaris tak ada gelar bergengsi yang luput dari bidikan Liliyana, baik saat berpasangan dengan Nova Widianto atau bersama Tontowi Ahmad. Klimaksnya adalah meraih medali emas di ajang Olimpiade Rio 2016, yang sekaligus menjadi emas satu-satunya bagi kontingen Indonesia.

Ketika semua mimpi telah terwujud, lantas apa lagi yang mau dicari Liliyana? Di usianya yang telah menginjak 33 tahun, kejenuhan pun mulai merasuki sukma Liliyana. Secara teknik bermain, boleh jadi, Liliyana masih mampu bersaing. Karena faktanya sampai saat ini duet Tontowi/Liliyana masih sulit dikalahkan para yuniornya. Namun secara psikologis, konsentrasinya tak bisa lagi 100 % fokus seperti beberapa tahun lalu. Inilah yang tak mungkin dipaksakan dari seorang Liliyana. Bagaimanapun Liliyana adalah manusia biasa yang juga punya keinginan untuk menikmati kehidupan lain di luar bulutangkis.

Tugas berat kini harus dipikul tim pelatih ganda campuran Pelatnas PBSI untuk menemukan sosok pemain sehebat Liliyana. Walau upaya itu sudah dilakukan sejak 2-3 tahun terakhir namun faktanya belum juga ditemukan pemain yang dicari. Jangankan untuk menyamai, bahkan sekadar mendekati prestasi Liliyana pun tak mudah ditemukan.

Kita tentu tak berharap tragedi di tunggal putri terulang di ganda campuran. Ketika era Susy Susanti berakhir, kurun waktu 20 tahun saja belum cukup untuk mendapatkan penggantinya. Terima kasih Liliyana untuk semua pengabdian yang telah diberikan untuk negeri ini.