Aturan Baru BWF

Sabtu, 03 Maret 2018 19:20:53

 

Dalam akun instagram pribadinya beberapa waktu lalu pebulutangkis terbaik Denmark, Viktor Axelsen pernah mengunggah foto dirinya tengah melakukan serve sambil berjongkok. Ia pun menuliskan kalimat singkat,"serve like this".

Sontak unggahan Viktor mendapatkan beragam respon. Namun, sebagian besar tertawa dengan ulah kocak pebulutangkis terkuat di daratan Eropa itu. Apa yang diunggah Viktor memang bukan sekadar kelakar tanpa makna. Sebaliknya, hal itu bagian dari ungkapan kekesalan serta kekecewaan atas peraturan baru yang akan diterapkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) yang memberi batasan tinggi maksimal persentuhan kepala raket dengan shuttlecock saat melakukan serve adalah 115 cm.

Aturan ini mengubah aturan sebelumnya yang membatasi tinggi maksimal persentuhan kepala raket dan shuttlecock yakni pada posisi rusuk terbawah seorang pemain. Aturan ini sejatinya sudah cukup fair karena menyesuaikan dengan tinggi badan sang pemain.

Ketentuan baru ini rencananya mulai diterapkan di ajang bergengsi All England, 14-18 Maret. Untuk menyatakan sah atau tidaknya serve seorang pemain akan digunakan alat sensor. Terkesan memang lebih fair ketimbang mengandalkan mata service judge yang terkadang tak mampu menghindar dari unsur subyektif.

Buat pemain tunggal, mungkin, tak terlalu masalah. Jika takut terkena fault, ia bisa beralih dengan melakukan serve panjang. Namun, bagi pemain ganda jarang terjadi ada seorang pemain yang melakukan serve panjang.

Kekesalan Viktor, boleh jadi, mewakili pemain-pemain Eropa yang rata-rata memiliki postur di atas 185 cm. Viktor seolah tak peduli meski Presiden BWF yang disindirnya adalah sebangsa dengan dirinya yakni Poul Erik Hoyer Larsen.

Ketentuan baru soal batas tinggi maksimal serve adalah satu dari beberapa aturan yang akan diluncurkan BWF. Ketentuan lain yang diperkirakan bakal menuai kontroversi adalah perubahan sistem poin menjadi 5 x 11 poin dengan tetap menggunakan reli poin. Aturan persis seperti yang diterapkan di tenis meja saat ini.

Di luar aturan permainan, BWF pun mengubah kategori turnamen yang semula dibuat dengan grade mulai yang tertinggi Superseries Premier, Superseries, Grand Prix Gold, Grand Prix, Challenge, dan International Series. Mulai tahun 2018 ini diubah dengan sistem level. Walau terkesan tak jauh beda dengan sebelumnya namun ternyata sistem ini justru membebani pihak stasiun televisi yang ingin membeli hak siar karena jadi jauh lebih mahal.

Jadi, jangan kaget jika mulai tahun ini akan makin sulit menyaksikan aksi para pebulutangkis papan atas dunia di layar televisi. Bahkan, Fox Sport, salah satu jaringan televisi internasional khusus olahraga asal Singapura pun menyerah karena revenue yang didapat tak sebanding dengan modalnya.