Ajang Pembuktian Jonatan

Selasa, 09 Juli 2019 15:33:15

Majalahbulutangkis.com- Satu fase dalam perjalanan karir bulutangkis seorang Jonatan Christie telah berhasil dilaluinya dengan baik. Kebuntuan prestasi di pentas BWF World Tour selama hampir empat tahun bermukim di Pelatnas PBSI Cipayung berhasil disingkap Jonatan.

Selalu ada yang pertama untuk memulainya. Diawali suksesnya naik podium juara di New Zealand Open 2019, gelar berikutnya menyusul di Australia Open 2019. Terlepas dua turnamen tersebut masih dalam kategori level Super 300, namun langkah besar itu sudah dimulai Jonatan.

Ketua Bidang Pembinaan PBSI, Susy Susanti pun tak hendak memberikan pujian yang berlebihan. Di mata Susy, gelar tersebut baru sekadar batu loncatan untuk menggapai gelar di level turnamen yang lebih tinggi. Karena itu di atas itu masih ada turnamen Super 500, Super 700, dan Super 1.000. Dengan kata lain, Jonatan masih perlu membuktikan ia mampu meraih gelar pada level yang lebih tinggi lagi.

Memang jika bermain di level Super 300 persaingannya tak segarang di level Super 500 ke atas. Kalau ada pemain papan atas yang ikut serta masih sebatas satu atau dua pemain saja. Namun, mulai dari turnamen Super 500 hingga Super 1.000, peserta yang tampil tentu lebih merata. Selain punya kewajiban ikut serta, hadiah serta poin rangking yang disediakan pun amat besar. Jadi, sayang pastinya untuk dilewatkan.

Ajang Blibli Indonesia Open 2019 adalah momentum terbaik untuk Jonatan membuktikan kualitas dirinya. Ia tak perlu lagi merasa ciut bersaing. Pasalnya, hampir seluruh pemain yang ada di jajaran 10 Besar BWF, sudah berhasil ditaklukkan Jonatan, seperti Kento Momota (Jepang), Chou Tien Chen (Taiwan), Viktor Axelsen (Denmark), serta Shi Yuqi (Tiongkok). Satu-satunya yang belum mampu dijinakkan adalah pemain senior Tiongkok, Chen Long yang sudah tujuh kali mengalahkan Jonatan.

Dengan kemampuan mengalahkan para pemain top dunia tersebut memang menjadi pertanda kualitas permainan Jonatan sudah berada pada level yang setara. Persoalannya adalah -seperti yang dikhawatirkan pula oleh Susy Susanti- kemampuan Jonatan untuk menjaga konsistensi permainannya. Satu ketika ia bisa tampil kesetanan, tapi di hari berikutnya Jonatan bisa berubah layaknya pemain 'ayam sayur'.

Bertanding di Istora Senayan, Jakarta, yang dijejali ribuan penonton adalah aset yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Jonatan. Namun, ribuan penonton ini tak akan berarti apa-apa ketika Jonatan tak mampu mengalahkan dirinya sendiri.