Empat Tahun

Selasa, 13 Agustus 2019 06:28:39

 

Majalahbulutangkis.com- Tak ada pesta meriah. Tak ada juga lilin warna-warni yang mengelilingi kue ulang tahun nan indah. Tanpa terasa waktu terus berjalan, empat tahun sudah Majalah Bulutangkis Indonesia mendampingi perjalanan bulutangkis di Tanah Air dengan segala pasang surut prestasinya.
Gagasan untuk meluncurkan majalah ini seolah meluncur begitu saja seiring akan berlangsungnya event bulutangkis bergengsi World Badminton Championships 2015 yang dihelat di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, awal Agustus 2015.
Simsalabim, hanya dalam hitungan waktu sebulan Majalah Bulutangkis Indonesia pun hadir mewarnai khazanah bulutangkis Tanah Air. Walau terkesan lahir prematur namun puji syukur majalah ini mampu tumbuh menjadi anak yang sehat. Banyak kerikil tajam menghadang dalam perjalanan, itu sudah pasti. Tapi, makin banyak ujian yang dialami makin membuat Majalah Bulutangkis Indonesia menjadi anak yang tangguh dan tak mudah mengeluh. Dan, ketika tak sedikit kalangan yang mencibir dan meragukan, ia tetap tegar melangkah ke depan.
Zaman memang telah berubah. Kemajuan di bidang teknologi informasi tak bisa dipungkiri makin membuat posisi media-media cetak yang dulu berjaya kini kian tersudut dan terkucilkan. Satu per satu media cetak yang dulu begitu disegani mulai berguguran dan mengucapkan selamat tinggal. Kalaupun masih cukup banyak yang bertahan namun
kondisinya pasti tak senyaman dahulu. Dengan kata lain, hidup segan mati tak mau.
Ketika sederet pertanyaan dialamatkan sampai kapan Majalah Bulutangkis Indonesia bertahan di tengah derasnya kemajuan teknologi informasi? Kami sendiri tak mampu menjawab dengan pasti. Namun, satu yang pasti adalah adanya keyakinan selama bulutangkis masih dipertandingkan di berbagai belahan dunia, maka majalah ini akan tetap
setia mendampingi dan menjadi saksi setiap jejak langkah para pebulutangkis Indonesia dengan segala plus dan minusnya.
Zaman boleh berubah. Para pemain bulutangkis pun tak pernah bisa mencegah adanya saatnya berjaya dan ada saatnya harus digantikan dengan yang lebih muda. Ketika tangan terasa tak kuat lagi untuk mengayun raket serta kaki tak kuasa lagi diajak berlari mengejar shuttlecock, di situlah seolah menjadi pertanda jika tubuh ini sudah tak
muda lagi.
Maka di situlah saatnya yang tepat - ditemani secangkir kopi hangat serta istri dan anak tercinta - untuk membuka-buka kembali lembaran demi lembaran Majalah Bulutangkis Indonesia yang pernah menjadi saksi bisu bahwa dulu ia pernah begitu berjaya di pentas bulutangkis dunia.
Terima kasih atas kebersamaannya selama empat tahun ini.