Pelajaran Mahal dari Liliyana

Senin, 04 Maret 2019 07:47:01

 

Sukses.

Meski hanya terdiri dari satu kata namun kata 'sukses' belum tentu sama dalam pemahaman setiap orang. Bahkan, berbagai macam interpretasi bisa muncul tatkala diminta mengartikan makna dari kata 'sukses' ini.

Dalam konteks olahraga, melalui sebuah literatur olahraga internasional yang pernah saya baca disebutkan bahwa 'sukses' itu merupakan perpaduan antara bakat dan kesempatan. Bakat yang dimaksud adalah menyangkut atlet yang memang memiliki talenta dan komitmen yang kuat untuk meraih sukses. Sedangkan kesempatan memiliki makna sang atlet memiliki kesempatan untuk dilatih dengan baik oleh pelatih yang kompeten serta diberi kesempatan untuk bertanding dengan porsi yang cukup.

Ketika definisi kata 'sukses' coba saya konversi dalam kenyataan yang ada ternyata memang benar adanya. Sejumlah atlet bulutangkis hebat Indonesia yang pernah lahir memang karena memiliki talenta yang hebat, mendapat kesempatan dilatih oleh pelatih yang hebat pula, serta kesempatan bertanding yang memadai. Menyangkut unsur yang ketiga memang erat kaitannya dengan investasi atau modal yang tak sedikit.

Mengonversi pada sepak terjang seorang Liliyana Natsir sejak meninggalkan kampungnya di Manado di usia 12 tahun, seolah menjadi pelajaran nyata bahwa sukses yang diraihnya adalah perpaduan dari ketiga unsur untuk meraih sukses di atas. Liliyana merupakan panutan atlet yang punya bakat hebat serta komitmen yang kuat untuk mencapai sukses. Ditangani pelatih yang kompeten serta kesempatan bertanding yang memadai maka Liliyana pun menjelma menjadi pebulutangkis yang hebat.

Belajar dari sukses Liliyana, mungkin tak ada salahnya PBSI mencoba mengevaluasi skuat yang ada melalui tiga parameter di atas. Dalam hal investasi rasanya PBSI tidak akan kekurangan modal untuk mengirim atletnya hingga ke ujung dunia sekalipun. Maka tinggal unsur pertama dan kedua yang perlu ditelaah lebih dalam.

Atlet yang bakatnya biasa-biasa saja masih mungkin menjadi hebat ketika ditangani pelatih yang hebat. Sebaliknya atlet yang punya bakat kuat bisa jadi rusak ketika ditangani oleh pelatih yang kompetensinya rendah. Jadi, akan lebih baik jika pemain yang punya talenta yang kuat benar-benar ditangani oleh pelatih-pelatih yang memang memiliki kompetensi yang hebat pula.

Yang harus diingat pula, sukses seorang atlet tentu menyangkut managemen waktu. Ibarat putaran jarum jam yang menunjukkan saatnya fajar, siang, serta senja. Jadi jangan pernah menunggu ketika senja telah tiba baru menyadari kekeliruan yang ada. Satu hal yang pasti, waktu akan terus bergulir dan tidak akan pernah menunggu kita. (*)