Eksploitasi

Senin, 14 Oktober 2019 08:40:55

 

 Majalahbulutangkis.com- Kata eksploitasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengandung makna pengusahaan, pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. Kata eksploitasi sempat menjadi viral di awal September lalu seiring surat yang dilayangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap PB.Djarum yang isinya agar segera menghentikan program Audisi Beasiswa Bulutangkis PB.Djarum.

Alasannya, jelas dan tegas, PB.Djarum dianggap telah melakukan eksploitasi terhadap anak-anak untuk mempromosikan produk rokok yang diselimuri kegiatan audisi. KPAI memang tidak sekonyong-konyong melayangkan surat tersebut. Tapi, surat keberatan itu dilayangkan ke berbagai pihak yang berkompeten setelah menerima laporan dari Yayasan Lentera Anak.
Yayasan ini menerima donasi dari berbagai lembaga nasional dan internasional untuk perlindungan anak dari berbagai ancaman, termasuk bahaya rokok. Bantuan asing yang terbesar adalah dari Bloomberg Philantrophies, sebuah lembaga nirlaba yang dimiliki Michael R Bloomberg, mantan walikota New York yang juga merupakan salah satu orang terkaya di dunia.
Berbekal peluru dari Bloomberg Philantrophies, yayasan ini pun mulai melancarkan serangannya dengan menjadikan ajang Audisi Beasiswa Bulutangkis PB.Djarum sebagai sasaran tembak. Alih-alih ingin melindungi anak-anak dari bahaya rokok, Yayasan Lentera Anak melalui KPAI meminta kegiatan audisi tersebut dihentikan.
Merasa tak bersalah, PB.Djarum pun meradang. Kegiatan yang sudah berlangsung sejak 2006 ini mengapa baru dipersoalkan sekarang. Managemen PB.Djarum pun balik menuding Yayasan Lentera Anak dan KPAI asal menuduh dan tak bisa membedakan antara PB.Djarum sebagai sebuah klub dan Djarum sebagai rokok.
Tudingan Yayasan Lentera Anak pun terkesan sumir karena tidak ditunjang dengan data yang valid. Seharusnya mereka bisa menyodorkan data peserta audisi yang akhirnya terpapar rokok. Toh, setiap tahunnya program audisi ini diikuti setidaknya 5.000 peserta. Jika sudah berjalan 13 tahun, maka sudah lebih dari 50.000 anak yang pernah mengikuti program audisi ini. Atau minimal bisa membuktikan pada setiap kegiatan audisi juga terjadi kegiatan transaksi jual beli atau bagi-bagi rokok, baik untuk peserta atau orang tua yang mengantar.
Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) pun bisa membedakan Djarum dalam tiga konteks. Konteks pertama sebagai produk rokok, konteks kedua sebagai sebuah yayasan, serta konteks ketiga sebagai sebuah perkumpulan bulutangkis. BWF pun sudah melarang produk rokok ikut mensponsori turnamen bulutangkis internasional sejak enam tahun lalu. Namun, Bakti Olahraga Djarum Foundation masih bisa terlibat. Begitu pula atlet PB.Djarum diperbolehkan mengenakan atribut klub.
Namun, Yayasan Lentera Anak dan KPAI punya tafsir yang berbeda. Selama masih ada kata Djarum maka entitasnya tetap sama. Kalau demikian penafsirannya, bukan tak mungkin sasaran tembaknya bakal makin melebar. Jadi, siap-siap saja jika klub ini suatu saat diminta berganti nama.