Mantan Pemain Ini Sangsi Zii Jia cs ke Final Piala Thomas
Rabu, 02 Maret 2022 11:02:13

Majalahbulutangkis.com- Tim Malaysia sukses menjadi juara kategori putra Badminton Asia Team Championships (BATC) 2022.
Pada final di Setia City Convention Centre, Shah Alam, Selangor, Malaysia, Minggu (20/2), Lee Zii Jia dan kawan-kawan mengalahkan tim putra Indonesia dengan skor telak 3-0.
Malaysia mengubur mimpi tim putra 'Merah Putih' merengkuh quattrick alias empat gelar beruntun di BATC setelah 2016, 2018, dan 2020.
Bagi Malaysia, itu merupakan gelar perdana mereka. Hebatnya lagi, prestasi itu dicatat tim 'Negeri Jiran' dengan rata-rata usia 21,3 tahun. Ini yang termuda dari dua keikutsertaan mereka sebelumnya, yakni 24,25 tahun (2018) dan 22,9 tahun (2020).
Ironisnya, ini belum bisa meyakinkan seorang Ong Ewe Hock bahwa Zii Jia dan kawan-kawan bakal bersinar di Piala Thomas 2022 yang digelar di Krung Thep Maha Nakhon atau Bangkok, Thailand, 8-15 Mei.
Ewe Hock merupakan mantan pemain tunggal putra Malaysia di era 1990-an. Pria yang akan genap berusia 50 tahun pada 14 Maret nanti ini meraih medali emas kategori beregu putra Commonwealth Games di Kuala Lumpur 1998 dan medali emas sektor beregu putra SEA Games di Kuala Lumpur 2001.
Ewe Hock, yang pensiun pada 2004, menilai skuad tim putra Malaysia sekarang tak cukup memiliki kemampuan untuk bertarung demi trofi Piala Thomas. Malaysia memang bukan termasuk 4 besar unggulan. 'Negeri Jiran' hanya ditempatkan sebagai unggulan 5-8.
Ewe Hock menyebut Indonesia, Jepang, Denmark, dan Taiwan sebagai favorit juara. Sedangkan, untuk Malaysia, Ewe Hock memprediksi hanya akan sampai di semifinal atau sama dengan edisi Piala Thomas 2016 di Kunshan, Tiongkok.
"Bila Malaysia bisa mencapai semifinal, saya sudah akan sangat bahagia. Maaf mengatakan ini, peluang kita mencapai final tak begitu menjanjikan. Saya tak bermaksud meremehkan tim ini, tapi ini sebuah penilaian berdasarkan rangking dunia," kata Ewe Hock dikutip dari News Straits Times, Rabu (2/3).
"Ranking para pemain selalu jadi cara terbaik mengukur kekuatan tim secara keseluruhan. Jelas, rangking makin tinggi, makin bagus. Bagi Malaysia, kita mungkin akan bergantung pada Zii Jia dan Aaron Chia/Soh Wooi Yik demi poin di tunggal dan ganda pertama. Ng Tze Yong bisa memainkan sebuah peranan kunci, tapi ia masih tak konsisten," imbuhnya.
Ewe Hock berhasil tiga kali mengantar Malaysia ke Piala Thomas, yakni di Jakarta (1994), Hong Kong (1998), dan Guangzhou (2002). Dengan pengalaman itu, Ewe Hock tentu tahu betul beban yang ditanggung para pemain. Itu sebabnya, ia meminta Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM) merevisi target agar lebih realistis dan bisa dipercaya.
"BAM bisa saja memasang target apa pun yang mereka suka, tapi mereka harus memastikan itu realistis dan bisa diraih. Begitu target ditetapkan, mereka harus berusaha memenuhinya apa pun bayarannya. Jika tim gagal, BAM wajib bertanggung jawab atas hasilnya," ungkap Ewe Hock.
(Indra)
Sumber foto: Vishwadha News, BWF