Koh Herry Tuntut Pemain Muda Contoh Sikap Ini dari The Daddies

Minggu, 20 Maret 2022 10:26:55

 

Majalahbulutangkis.com- Dua ganda Indonesia bentrok di final All England 2022 yang digelar di Utilita Arena Birmingham, Birmingham, Inggris, Minggu (20/3). 

Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri mewakili generasi pemain muda berhadapan dengan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang menjadi perwakilan generasi senior. 

Siapa pun yang nantinya berhak atas trofi turnamen bulutangkis tertua dan paling bergengsi di sejagat ini bukanlah masalah bagi para penikmat bulutangkis Tanah Air. 

Yang pastinya, ini menjadi gelar ke-15 di sektor ganda putra sejak All England memasuki era Open (Terbuka) pada 1980. 

Lolosnya Ahsan/Hendra ke final All England 2022 jelas tak bisa dibilang sebagai hal luar biasa. Apalagi, The Daddies telah dua kali juara, yakni pada 2014 dan 2019. 

Namun, proses yang dilalui The Daddies untuk menapak partai puncak itu yang patut mendapat perhatian khusus. Capaian ini diraih dengan kondisi Ahsan yang tak prima sepenuhnya. 

Sejak keberangkatan ke Inggris dari Tanah Air, pemain kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, ini telah dibekap cedera betis kiri. Situasinya makin pelik ketika betis kaki kanannya juga bermasalah. 

Momennya di game kedua kontra Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen pada perempat final, Jumat (18/3). Ahsan sempat mendapat perawatan sebelum bisa melanjutkan pertandingan. Akhirnya, The Daddies menang 21-15, 22-20. 

Di semifinal, Sabtu (19/3), Ahsan/Hendra berhadapan dengan ganda Tiongkok, He Ji Ting/Tan Qiang. Selepas pertandingan yang dimenangi 21-16, 14-21, 21-13, Ahsan mengklaim cedera betis kirinya belum terlalu sembuh meski sudah lebih baik ketimbang sehari sebelumnya. 

"Cedera saya sebenarnya masih terasa sakit, tapi sudah lebih baik dibanding kemarin. Di game kedua, kami bermain terlalu lambat terutama saya karena cukup merasakan sakit. Di game ketiga, saya hanya fokus saja di pertandingan dan tak memikirkan soal rasa sakit," kata Ahsan dikutip dari rilis Tim Humas dan Media PP PBSI.

Sikap pantang menyerah dalam kondisi apa pun seperti yang diperlihatkan Ahsan wajib diikuti para pemain muda. Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi, menuntut para pemain muda semestinya jangan kalah dengan para senior, apalagi Ahsan dan Hendra yang masing-masing telah berusia 34 tahun dan 37 tahun.

"Luar biasa, walau kondisi tak prima, tapi Ahsan/Hendra bisa memanfaatkan segala pengalaman mereka, mental juaranya, dan fighting spirit-nya di tengah lapangan. Mereka juga tak mudah menyerah. Perjuangan Ahsan/Hendra itu bisa menjadi contoh bagi pemain-pemain muda Indonesia," ungkap Koh Herry. 

(Indra)

Sumber foto: PP PBSI