Daihatsu Indonesia Masters 2020: Intanon Ulangi Prestasi 2010

Minggu, 19 Januari 2020 19:17:16

 

Majalahbulutangkis.com- Bintang bulutangkis asal Thailand, Ratchanok Intanon akhirnya sukses naik podium juara di ajang Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta. Di laga final Minggu (19/1), Intanon berhasil mengalahkan bintang Spanyol, Carolina Marin dalam laga tiga game 21-19, 11-21, 21-18 dalam durasi selama 80 menit.

Bagi Intanon, sukses di ajang BWF Super 500 berhadiah total 400.000 dolar AS ini merupakan gelar pertamanya di musim 2020. Sukses ini sekaligus mengulang prestasi Intanon yang pernah diraihnya saat event ini pertama kali digelar di Samarinda tahun 2010 yang lalu. Namun bedanya saat itu turnamen ini masih memiliki kategori Grand Prix Gold dengan menyediakan hadiah total 120.000 dolar. Sejak 2018 event ini naik level menjadi turnamen BWF Super 500.

Marin memang bukan lawan asing buat Intanon. Sebelumnya kedua pemain sudah 10 kali saling bentrok dengan rekor 6-4 masih untuk keunggulan Intanon. Namun meski unggul dalam head to head Intanon mengakui Marin bukanlah pemain yang mudah dikalahkan.

"Marin punya mental yang kuat, di poin penting dia lebih agresif. Saya berusaha untuk mengatasi hal ini dan menikmati permainan. Semua pemain pasti mau jadi juara di laga final, pasti ada tekanan. Saya harus bisa mengontrol diri saya, kalau saya bisa mengalahkan diri saya, saya akan bisa mengalahkan lawan," ujar Intanon

Sebaliknya Marin mengaku meski agak kecewa karena dua tahun beruntun lolos ke final namun selalu gagal membuahkan gelar juara namun ia puas dengan permainannya kali ini. Bermain di Istora Senayan juga merupakan tempat favorit buat Marin.

"Saat ke sini pertama kali, saya merasakan cinta dengan sebuah negara, saya merasa nyaman walaupun saya sedang jauh dari negara saya. Saya merasa bersyukur dapat dukungan yang luar biasa. Saya merasa senang bermain di sini," kata Marin dalam konferensi pers setelah pertandingan.

"Saya rasa pendukung kami 50-50 di sini, dia juga mendapat dukungan. Apalagi dia baru sembuh dari cedera, semua orang memberi support kepada dia, agar dia tidak merasa sendirian," ucap Intanon.

Marin memuji kecerdikan Intanon dalam laga final berdurasi 80 menit tersebut. Disebutkan Marin, ia kurang mengantisipasi permainan net Intanon.

"Dia bermain pintar, harusnya saya menjauhkan bola dari net, jangan dekat-dekat dengan net karena feeling dia sedang bagus di net. Kami adalah pemain menyerang, kami harus bermain netting untuk dapat kesempatan menyerang," ujar Marin. (MB-01)