Tanpa Wakil Indonesia di Laga Final
Minggu, 24 Januari 2021 06:11:15
.jpg)
Majalahbulutangkis.com- Kubu Indonesia harus menelan pil pahit setelah gagal meloloskan satu pun wakilnya di babak final ajang bulutangkis Toyota Thailand Open Super 1000 yang digelar di Impact Arena, Bangkok.
Dua harapan terakhir Indonesia yang berlaga di semifinal Sabtu (23/1), ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu serta ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan gagal mengatasi lawannya masing-masing.
Greysia/Apriyani yang pekan sebelumnya sukses menjuarai ajang Yonex Thailand Open, gagal mengulangi suksesnya setelah dikalahkan ganda putri Korsel, Lee So Hee/Shin Seung Chan dua game langsung 16-21, 18-21 dalam durasi 58 menit.
"Saya pikir kami telah mencoba yang terbaik dan kami melangkah sejauh yang kami bisa. Mereka lebih siap dan lebih baik dari kami hari ini," ungkap Greysia mengakui keunggulan lawan.
"Sejujurnya, kami merasa kami lebih lemah dalam hal pola pikir. Secara fisik dan mental, kami sedikit lemah dan terus mencoba, tetapi kami juga ingin mengeluarkan yang terbaik," tambahnya.
Kemenangan pasangan Korea Selatan kali ini merupakan revans. Pasalnya pada babak semifinal Yonex Thailand Terbuka 2021 pekan lalu, mereka dikalahkan Greysia/Apriyani dengan rubber game 15-21, 21-15, 21-16 hingga mengantarkan wakil ganda putri Indonesia akhirnya menjadi juara.
Diakui Greysia, mengikuti dua turnamen beruntun memang melelahkan. Fokus, pikiran, dan kondisi fisik harus terus mereka jaga selama berjalannya pertandingan.
"Turnamen beruntun seperti ini memang melelahkan. Tidak mudah untuk bisa mempertahankan kemenangan di nomor ganda putri. Kami harus menjaga fokus dan pikiran ke pertandingan, juga kondisi fisik," ucap Greysia.
Pelatih ganda putri, Eng Hian menuturkan bahwa penampilan atlet binaannya ini menurun, tidak seperti minggu lalu. Hal itu berpengaruh cukup besar bagi kualitas pukulan mereka.
"Penampilan Greysia/Apriyani hari ini tidak fresh seperti minggu lalu. Dibutuhkan kesegaran badan untuk menunjang gerakan di lapangan. Tidak boleh kalah cepat dan tidak boleh turun konsistensinya. Kondisi badan yang tidak fresh mempengaruhi kualitas pukulan bola," jelas Eng Hian yang akrab dipanggil Didi ini.
Meski kondisi fisik menurun, Greysia/Apriyani dinilai cukup konsisten di lapangan. Keduanya pun telah melebihi target yang diberikan PP PBSI.
"Mereka cukup konsisten dan bermain sesuai kebutuhan di lapangan. Hasil dari dua turnamen ini sudah melebihi target yang diberikan oleh PBSI. Tetapi tentunya saya sebagai pelatih dan Greysia/Apriyani sendiri pasti ingin selalu menjadi yang terbaik," ungkapnya.
Pada pekan depan Greysia/Apriyani harus kembali bertarung dalam BWF World Tour Finals. Diharapkan dalam beberapa hari ini, keduanya bisa beristirahat untuk kembali memulihkan kondisi dan siap bertanding.
"Saya akan memberikan istirahat, terutama untuk Greysia/Apriyani sampai hari Senin supaya badan bisa fresh untuk BWF World Tour Finals. Doakan saja untuk minggu depan kita dapat menjadi yang terbaik lagi" tutur Eng Hian.
Setali tiga uang, kegagalan juga dialami Hendra/Ahsan yang dipaksa mengakui keunggulan pasangan China Taipei, Lee Yang/Wang Chi Lin dalam laga tiga game 21-14, 20-22, 12-21 dalam durasi 50 menit.
Pelatih ganda putra, pelatih Herry Iman Pierngadi menyebutkan bahwa pada dua Leg Asia kali ini, belum mencapai target. Anak-anak asuhannya yang diharapkan bersinar, terutama Ahsan/Hendra dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, justru gagal.
"Ya memang ganda putra tidak mencapai target. Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian memang yang kami harapkan, tapi ternyata tidak berhasil. Mereka gagal. Nanti latihannya akan dievaluasi lagi. Memang banyak penurunan," sebut Herry.
Menurut Herry, cedera betis kiri yang dialami Ahsan pada babak pertama, Rabu (20/1) lalu, memang memengaruhi penampilannya. Namun, dia juga menyebut bahwa hal itu bukanlah alasan utama, melainkan pada faktor stamina dan usia.
"Cederanya Ahsan ada pengaruhnya, tapi lebih besar pengaruh karena stamina, karena usia tidak bisa dibohongi. Kalau memang tadi mau menang, kan seharusnya bisa dua gim. Yang gim kedua itu kan sudah setting," jelas Herry.
"Memang pada saat setting itu, ganda kita itu membuat kesalahan. Dua poin itu kan nyangkut sendiri. Memang handicapnya di lapangan, menang angin, kalah angin, atau bolanya juga sedikit berat. Pemain-pemain seusia mereka ada handicap di situ. Saya berharap, nanti di World Tour Final penampilannya bisa lebih baik lagi," tuturnya.
Sementara untuk Fajar/Rian, Herry pun mengakui adanya penurunan kualitas pada keduanya. Lama tidak bertanding, juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hilangnya ritme permainan.
"Fajar/Rian banyak orang bilang menurun, memang betul mereka menurun. Kemarin juga sudah ngobrol. Memang lama tidak ada pertandingan, 10 bulan vakum, jadi sedikit kagok buat mereka," kata Herry.
"Ritme, irama, dan suasananya hilang. Sudah lama tidak bertanding, jadi harus beradaptasi lagi. Walaupun memang mereka termasuk pemain yang sudah top 10. Kita memang harus bisa mengatasinya," tambahnya.
Selain turunnya kualitas, Herry menyebut tangan Fajar yang bermasalah ikut menjadi kendala. Untuk selanjutnya, menjadi pekerjaan rumah cukup besar untuk mempersiapkan mereka kembali tampil optimal pada turnamen internasional yang akan digelar pada Maret mendatang.
"Tapi dari semuanya, kendala itu nomor satunya memang Fajar tangannya ada masalah, jadi tidak bisa maksimal sekali. Hanya mengandalkan Rian saja. Memang bukan alasan, itu kenyataan. Di samping itu memang penampilannya menurun, harus diakui," kata Herry. (MB-01)