Dominasi Ganda Putra Indonesia Bisa Runtuh Gegara Mantan Musuh Bebuyutan Hendra Setiawan

Kamis, 28 Juli 2022 14:25:05

 

Majalahbulutangkis.com- Cai Yun sudah lama menggantung raket alias pensiun dari bulutangkis. Tepatnya sejak 24 Juni 2016. Namun, sepertinya pria Tiongkok kelahiran Suzhou, Jiangsu, 19 Januari 1980 ini masih terus menjadi momok bagi para pebulutangkis saat ini. 

Tentunya bukan sebagai pemain, tapi lebih kepada keahliannya membaca permainan yang memang jadi kelebihannya ketika masih aktif bertanding dulu. Cai Yun terkenal bersama pasangannya, Fu Haifeng, di era 2000-an. 

Dalam 19 tahun kariernya di bulutangkis, selama 12 tahun di antaranya Cai Yun menghabiskannya bertandem dengan Fu Haifeng. Prestasi yang mereka torehkan pun fantastis. Cai Yun/Fu Haifeng menjuarai Kejuaraan Dunia empat kali (2006, 2009, 2010, dan 2011), meraih satu medali emas Olimpiade (London 2012), dua gelar juara All England Open (2005, 2009), dan membantu Tiongkok menjuarai Piala Thomas lima kali beruntun (2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008), serta merajai Piala Sudirman lima kali (2005, 2007, 2009, 2011, dan 2013).   

Setelah berpisah dari Fu Haifeng pada Maret 2014, Cai Yun tak bisa lagi mengulang prestasi-prestasi hebatnya. Ia sempat berpasangan dengan Lu Kai, tapi mereka hanya berhasil menjuarai Singapore Open 2014 dan Swiss Open 2015. 

Cai Yun/Fu Haifeng merupakan salah satu musuh bebuyutan Hendra Setiawan ketika masih berpasangan dengan Markis Kido. Rekor pertemuan kedua pasangan ini yakni 6-3 untuk Cai Yun/Fu Haifeng. 

Hendra termasuk salah satu pemain yang memiliki karakteristik permainan ganda putra Indonesia, yakni apik bermain di bagian depan lapangan. Cai Yun pun mengakui itu. Namun, dari pengalamannya melawan Hendra/Markis, pria yang kini berprofesi sebagai komentator pertandingan bulutangkis itu tahu titik lemah ganda-ganda Indonesia saat ini. 

Cai Yun menyebut pemain-pemain ganda putra 'Merah Putih' lemah dalam melakukan smash dari sisi lapangan belakang pun dengan kestabilan dalam bermain. Ini yang mesti dimanfaatkan para lawan Hendra dan kawan-kawan, termasuk oleh para ganda Tiongkok. 

"Kekurangan pemain Indonesia adalah daya smash di lapangan belakang kurang baik dan kestabilannya juga kurang," kata Cai Yun dilansir dari Sohu.com beberapa waktu lalu. 

"Ganda putra Indonesia kebanyakan lemah di lapangan belakang, tapi mereka bisa menutupi hal itu dengan keunggulan bermain di lapangan depan," tambahnya. 

Kehebatan Cai Yun/Fu Haifeng memang ada pada kemampuan mereka mengkombinasikan keahlian Cai Yun bermain di sisi depan lapangan dan smash keras Fu Haifeng dari lapangan belakang.  

Setelah dominasi Cai Yun/Fu Haifeng berakhir, giliran ganda-ganda putra Indonesia yang menancapkan hegemoninya. Dimulai dengan Mohammad Ahsan/Hendra yang mampu meraih tiga gelar juara dunia, masing-masing pada 2013, 2015, dan 2019. Tinggal satu gelar lagi ganda berjuluk The Daddies ini bisa menyamai torehan Cai Yun/Fu Haifeng. 

Namun, itu sepertinya harus mereka lakukan tahun ini di Tokyo, Jepang, 22-28 Agustus. Sebab, dengan usia Hendra yang akan genap 38 tahun pada 25 Agustus nanti dan Ahsan yang bakal berumur 35 tahun pada 7 September mendatang, karier bulutangkis mereka akan segera berakhir. 

Cai Yun tak menampik selepas The Daddies pensiun, ganda-ganda putra Indonesia mungkin akan tetap mendominasi, Namun, Cai Yun memastikan itu tak akan berlangsung lama. Sebab, ganda-ganda anyar Tiongkok punya potensi merusak dominasi tersebut dalam waktu dekat. 

"Bulutangkis ganda putra saat ini memang didominasi Indonesia. Performa mereka di paro pertama tahun ini bisa dikatakan sangat bagus, tapi bulutangkis Tiongkok memiliki warisan yang kuat dan tak bisa dipandang remeh," ungkap Cai Yun.

"Kekuatan Indonesia hanya sementara. Selama kita memperkuat pelatihan teknis dan taktis serta menggunakan kekuatan kita sendiri dan menjauhi kelemahan, saya optimistis tak terlalu lama lagi kita bisa menembusnya (dominasi Indonesia)," imbuhnya. 

(Indra)

Sumber foto: PP PBSI