Jumpa Mr.Yoneyama di Yogyakarta

Jumat, 17 Nov 2017 14:45:22

Majalahbulutangkis.com- Brand perlengkapan olahraga bulutangkis asal Jepang, Yonex memang tak perlu diragukan lagi popularitasnya. Sejarah panjang perkembangan bulutangkis dunia dalam kurun 60 tahun belakangan pun seperti mengiringi revolusi peralatan bulutangkis Yonex dari waktu ke waktu.

Begitu panjang perjalanan yang dilalui hingga membuat olahraga bulutangkis sangat identik dengan Yonex. Tak heran, hampir 80 % pasar peralatan bulutangkis dunia berhasil dikuasai oleh Yonex. Pun demikian di Indonesia, sebelum aturan baru kontrak individu dibuat di era Ketua Umum PP.PBSI Gita Wirjawan pada 2012-2016, Yonex seolah menjadi penguasa tunggal selama hampir 30 tahun dengan aturan kontrak kolektif yang diberlakukan sejak era Ketua Umum Try Sutrisno hingga Joko Santoso.

Tanpa sengaja dan direncana, Majalah Bulutangkis Indonesia memiliki kesempatan bertemu dengan Ben Yoneyama yang merupakan tokoh penting di balik sukses Yonex. Beliau hadir saat berlangsungnya ajang Blibli.com Yonex Sunrise BWF World Junior Championship 2017 di Yogyakarta. Kebetulan Yonex memang menjadi salah satu pendukung event terbesar bagi para pebulutangkis yunior yang diikuti 64 negara itu.

Itu adalah kedatangan pertama Ben ke Yogyakarta. Ia ingin menyaksikan sendiri euforia serta gegap gempitanya penyelenggaraan kejuaraan ini. Kebetulan ia hadir saat final perseorangan yang berlangsung pada Minggu (22/10). Tuan rumah Indonesia berhasil meloloskan tiga wakilnya di babak final. Tak heran, GOR Among Rogo pun dijejali tak kurang dari 4.700 penonton yang tak pernah lelah bersorak-sorai mendukung para pemain Indonesia.

"Luar biasa, saya baru menyaksikan animo penonton yang demikian besar, apalagi ini hanya event yunior. Salut, saya juga melihat dari sisi penyelenggaraannya berlangsung rapi. Saya sendiri belum pernah menyaksikan animo penonton yang begitu besar seperti ini di Jepang," puji Ben lagi.

Ben memang sudah mengetahui bulutangkis adalah salah satu olahraga yang paling digemari masyarakat Indonesia. Prestasi para pebulutangkis Indonesia sejak dulu pun sudah mendunia. Namun, meski bulutangkis merupakan olahraga populer kedua di Indonesia setelah sepakbola, faktanya Indonesia bukanlah pasar terbesar bagi Yonex.

"Indonesia memang salah satu pasar yang besar bagi Yonex, tapi pasar terbesar kami di dunia justru ada di Tiongkok," ujar Ben Yoneyama, Chairman of Yonex Company Limited.

Ben sendiri tidak mempermasalahkan ketika PBSI mulai memberlakukan aturan kontrak individu, karena pada prinsipnya Yonex tidak ingin mendominasi. Sebaliknya, Yonex ingin mendukung para pemain Indonesia untuk meraih prestasi setinggi mungkin. Ben mengetahui saat ini Indonesia memiliki pemain-pemain muda yang sangat potensial, terutama di sektor tunggal putra dan ganda putra. Ben pun meyakini dengan konsistensi pembinaan yang dilakukan kejayaan bulutangkis Indonesia tidak akan pernah putus.

Generasi Kedua

Ben Yoneyama merupakan generasi kedua penerus usaha yang dirintis sang ayah Minoru Yoneyama pada awal 1960-an. Minoru yang lahir di Desa Tsukanoyama, Niigata, 15 Oktober 1924, pada awalnya menjalani usaha sebagai pembuat alat pancing dari kayu. Tetapi karena penemuan pancing ikan dari kayu ke plastik, usaha yang dimiliki Minoru mengalami kebangkrutan.

Sempat frustrasi, Minoru berkeliling ke seluruh Jepang untuk mencari ide bisnis. Dengan naluri bisnis yang besar, Minoru bangkit dan membuat raket bulutangkis. Sebenarnya di Jepang lebih dulu ada olahraga yang sangat mirip dengan bulutangkis, yaitu Hanetsuki. Bedanya olahraga ini menggunakan raket kayu dan tidak menggunakan net.

Selepas Perang Dunia II berakhir, Jepang melakukan perubahan besar-besaran dengan menerima segala budaya dan teknologi dari dunia luar. Maka masuklah olahraga bulutangkis ke Jepang. Karena di Jepang sudah ada permainan yang nyaris serupa, bulutangkis pun mendapatkan sambutan yang baik.

Di Jepang sendiri sebelumnya sudah ada produsen raket bernama Sanbata. Minoru pun mendekati Sanbata untuk menjadi official equipment manufacturer (OEM). Setelah diterima, Yoneyama langsung membuat perusahaan baru dengan nama Yoneyama Company Ltd. Kualitas yang dibuat oleh Yoneyama ternyata sangat mengagumkan. Produk Sanbata pun terkenal di seluruh Jepang.

Tetapi masalah baru muncul, Sanbata harus tutup karena masalah internal perusahaan. Minoru yang sebelumnya ikut Sanbata terkena imbasnya. Ia pun harus memulai dari awal lagi. Ia berjuang ke sana ke mari untuk mendapatkan investor baru. Pada tahun 1961, investor didapat dan Minoru membuka toko peralatan bulutangkis pertamanya.

Tahun 1962, produk raket merek Yoneyama diluncurkan untuk pertama kalinya dengan jenis 1000 dan 2000. Yoneyama juga mensponsori Chuo University dan langsung mendapatkan juara. Seketika itu, Yoneyama langsung menjadi produsen nomor 1 bulutangkis di Jepang.

Pada tahun 1973, Yoneyama mengeluarkan logo YY. YY bukan kepanjangan dari Yoneyama, tetapi Yoneyama Youth. Youth merupakan visi dan misi dari Yoneyama agar Yoneyama ini banyak dipakai oleh anak muda di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak lama setelah itu, Yoneyama memberikan sponsor untuk pertama kali kepada pemain bulutangkis. Di adalah Rudy Hartono, pemain Indonesia yang sudah 8 kali juara All England. Di tahun yang sama, Yoneyama juga mengumumkan untuk masuk ke pasar tenis. Produk TS-6500 dan TS-5500 merupakan raket tenis yang pertama dijual oleh Yoneyama.

Banyak yang mengatakan, nama Yoneyama ini terlalu panjang dan untuk pelafalan juga cukup susah. Pada akhirnya Yoneyama memutuskan untuk mengganti nama menjadi Yonex. Huruf X sendiri berarti terus berkreasi untuk masa depan teknologi dalam dunia olahraga.

Berkat dedikasinya terhadap perkembangan bulutangkis dunia, pada tanggal 19 Mei 2006 Federasi Bulutangkis Internasional (IBF) menganugrahi Minoru Yoneyama berupa penghargaan Order of the World of Badminton.

Dalam perkembangan selanjutnya, Yonex tidak hanya fokus pada produksi raket bulutangkis tapi juga perlengkapan pendukungnya seperti sepatu, shuttlecock, kaos dan celana. Pun demikian untuk perlengkapan olahraga tenis.

Setelah era Minoru Yoneyama berakhir, kini kejayaan kerajaan Yonex diteruskan oleh sang putra Ben Yoneyama. Yonex terus merambah hingga menguasai seantero dunia. Deretan pemain-pemain papan atas berbagai negara dari generasi ke generasi juga telah menjadi duta Yonex.

« Back to News