Blunder

Selasa, 07 Agustus 2018 12:51:19

 

Majalahbulutangkis.com- Ketika pada akhir Juni 2018 lalu PBSI mengumumkan nama-nama pemain yang akan memperkuat tim Indonesia di ajang Asian Games XVIII 2018 di Jakarta, 19-26 Agustus 2018, seolah ada rasa tidak percaya dan heran. Betapa tidak, dari 10 pemain putra dan 10 putri yang dipanggil, ternyata masing-masing hanya ada 3 pemain tunggal putra dan putri yang dipanggil.

Itu berarti, untuk pertandingan nomor beregu yang menampilkan 3 partai tunggal dan 2 ganda, kubu Indonesia tampil tanpa pemain cadangan atau pengganti di nomor tunggal. Sebuah keputusan yang penuh spekulasi, atau bisa jadi karena berangkat dari perasaan pesimisme yang begitu mendalam terhadap penampilan tunggal putra dan putri Indonesia. Sepanjang pengetahuan saya mengikuti perjalanan bulutangkis sejak tahun 1990, boleh jadi, ini adalah yang pertama kali tim Indonesia tanpa cadangan di sektor tunggal saat tampil di nomor beregu.

Dalam menentukan pemain -khususnya di beregu putra- pun terkesan agak kontroversial. Banyak kalangan mempertanyakan keputusan PBSI yang tidak memanggil Tommy Sugiarto yang notabene memiliki peringkat serta prestasi setidaknya dalam satu semester pertama 2018 ini lebih bersinar. Tanpa harus menggusur salah satu di antara tiga pemain yang sudah dipilih, sejatinya masih memungkinkan Tommy masuk tim. Dengan kata lain tim Indonesia punya satu pemain cadangan di sektor tunggal.

Tapi, PBSI ternyata punya pertimbangan lain. Pertimbangan itu pastinya bukan lagi masalah prestasi, pengalaman, atau peringkat. Tapi, lebih merupakan persoalan non teknis yang sulit untuk dijabarkan. Siapa pun paham ketika faktor non teknis yang dikedepankan maka pertimbangannya adalah perasaan yang bicara. Dan, ketika perasaan yang dipakai maka tidak akan ada tolok ukur dan standar yang jelas.

Yang pasti, saat event Asian Games 2018 digelar, ada baiknya semua berdoa agar ketiga pemain tunggal Indonesia tidak ada yang mengalami masalah atau cedera. Pasalnya, andai situasi terburuk itu terjadi maka siap-siaplah kita menyaksikan pemain ganda yang dipaksakan bertanding di nomor tunggal.

Di situlah orang baru akan tersadar, inilah blunder 'terlucu' yang pernah dilakukan dalam sejarah PBSI.