M.Ahsan Dari Palembang Mengejar Impian

Rabu, 08 Mei 2019 16:30:48

 

Majalahbulutangkis.com- Geliat bulutangkis di Kota Palembang, Sumatera Selatan, memang tak sedahsyat kota-kota di Pulau Jawa yang dibuktikan dengan tumbuhnya klub-klub besar yang banyak melahirkan pebulutangkis hebat. Di kota yang lebih dikenal sebagai Kota Pempek inilah Mohammad Ahsan lahir dan dibesarkan.

Totalitas jalan hidup Ahsan untuk bulutangkis memang tak lepas dari peran sang ayah Tumin Atmadi yang sesungguhnya bukanlah asli orang Sumatera Selatan. Saat kecil Tumin bersama kedua orang tuanya meninggalkan kampung halaman mereka di Kebumen, Jawa Tengah, untuk mengikuti program transmigrasi ke Pagar Alam, Sumatera Selatan, sekitar tahun 1977.

Tumin muda selain sehari-hari mengajar di salah satu pesantren di Pagar Alam, juga hobi berolahraga bulutangkis. Olahraga ini dipelajari dan dilatihnya secara otodidak tanpa pernah mengikuti pelatihan di klub. Bakat alamnya itulah yang mengantar Tumin sebagai jagoan bulutangkis di Kabupaten Pagar Alam.

Tak cuma jago di lapangan bulutangkis, Tumin yang pandai mengaji juga kerap dipercaya sebagai juri dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Pagar Alam. Dalam salah satu kesempatan menjadi juri di ajang MTQ itulah Tumin berkenalan dengan salah satu peserta MTQ yang bernama Siti Rohanah. Tanpa proses pacaran yang berliku-liku Tumin pun meminang Siti Rohana menjadi isterinya di akhir 1980.

Setahun berselang Tumin dan isteri memutuskan meninggalkan Pagar Alam menuju Palembang. Kebetulan Tumin diterima bekerja sebagai sipir di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Palembang. Mereka pun mendapatkan kesempatan tinggal di rumah dinas yang ada di lingkungan penjara.

Hengkang ke ibukota provinsi ternyata tetap tak menyurutkan hobi Tumin dalam bermain bulutangkis. Terlebih di lingkungan penjara ada sebuah gedung bulutangkis yang walaupun sederhana namun sudah cukup untuk memuaskan hasrat Tumin untuk menyalurkan hobinya. Nama Tumin pun kian dikenal karena selalu menjadi juara setiap kali kejuaraan bulutangkis digelar di lingkungan LP Kelas 1 Palembang.

Meski harus menjalani kehidupan yang sederhana, satu per satu lahir anak dari rahim Siti Rohana. Anak pertama berjenis kelamin perempuan bernama Nisa Tartiela lahir 7 September 1982. Saat Nisa baru mulai belajar berjalan, lahir putra kedua Mohammad Asykuru pada 18 April 1984. Dalam kondisi masih sibuk-sibuknya mengurus dua orang anak yang masih kecil lahir putra ketiga pada 7 September1986 yang diberi nama Mohammad Ahsan.

"Memang berat sekali kehidupan kami saat itu karena harus membiayai anak-anak yang masih kecil-kecil. Saya mengerti betul penghasilan Pak Tumin tidaklah cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Karena itulah saya mencari akal agar bisa mendapatkan tambahan uang untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari," kenang Siti Rohana.

Sang ibu pun mulai belajar berdagang dengan menjual pakaian meski tidak memiliki modal. Ia bisa berjualan berkat kebaikan dan kepercayaan dari pemilik toko pakaian di Pasar 16 Ilir Palembang yang membolehkannya mengambil barang terlebih dulu. Barang baru dibayarkan setelah laku terjual. Jika tidak laku ia pun diberikan kesempatan untuk mengembalikan atau menukar barang. Pangsa pasarnya memang lebih banyak karyawan di lingkungan LP Palembang. Dari keuntungan yang tak seberapa inilah Siti Rohana bisa menambah penghasilan rumah tangga.

Sementara Tumin yang tetap melakoni hobinya bermain bulutangkis mulai menularkan virus bulutangkis kepada ketiga putra-putrinya. Setiap sore sepulang sekolah ketiga anaknya dengan tekun diajari memukul shuttlecock. Beruntung ia bisa menggunakan fasilitas lapangan gratis di LP Palembang.

"Pak Tumin memang ngotot sekali ingin menjadikan anak-anaknya sebagai pemain bulutangkis. Padahal, saya menyadari hal itu tidak mudah mengingat keterbatasan yang kami miliki. Tidak sedikit pula yang mengejek suami saya itu sebagai tukang mimpi. Tapi beliau tetap tegar melatih anak-anak," lanjut Siti lagi.

Ketika sudah mulai trampil memukul, Tumin pun berinisiatif memindahkan ketiga anaknya berlatih di Pusdiklat Pusri Palembang. Inilah satu-satunya pusat pelatihan bulutangkis yang paling memadai yang ada di Sumatera Selatan. Pusdiklat ini menyediakan beasiswa bagi atlet-atletnya yang berbakat. Berbekal kemampuan dasar yang telah dimiliki, Nisa, Asquru, dan Ahsan pun berhasil diterima di Pusdiklat Pusri pada tahun 1991.

Dengan pelatihan yang lebih terprogram tiga kakak beradik ini pun mulai memperlihatkan prestasinya. Nisa mampu menjadi juara di kejuaraan tingkat Sumatera. Sedangkan Asquru dan Ahsan berhasil menjadi juara tunggal putra di kejuaraan tingkat kota Palembang. Meskipun sudah berlatih di Pusdiklat Pusri Palembang namun kebutuhan untuk menunjang latihan ketiga anaknya tetap saja cukup besar.

"Pernah satu ketika pulang latihan Ahsan menangis minta dibelikan sepatu baru. Ia malu karena selalu diejek oleh teman-temannya karena sepatu yang dipakainya memang sepatu murahan," tutur Siti.

Dengan susah payah Siti pun mencari cara untuk membelikan sepatu buat Ahsan agar ia tetap fokus berlatih. Beruntung kedua kakaknya mau memahami sehingga mereka tidak iri minta dibelikan sepatu juga. Karena jika ketiga anaknya sekaligus minta dibelikan sepatu baru pasti Siti tidak akan mampu memenuhinya. Di tengah kerja kerasnya memenuhi kebutuhan putra-putrinya, Siti Rohanah tak pernah jenuh berdoa kepada Allah.

"Setiap tahajud saya selalu meminta kepada Allah, paling tidak salah satu dari ketiga anak kami ini bisa sukses mewujudkan impiannya menjadi pebulutangkis yang hebat," pinta Siti Rohana.

Doa terus dipanjatkan Siti Rohanah tanpa mengenal lelah dan jenuh. Ironisnya, cobaan hidup yang dijalani kian terasa berat. Terlebih Tumin Admadi sudah memasuki masa pensiun pada tahun 1996. Itu artinya mereka tak bisa lagi menempati rumah dinas di LP Kelas 1 Palembang. Memang beberapa tahun sebelum pensiun Tumin sudah menyiapkan tempat tinggal yang baru di Perumnas Sako di daerah Kenten, Palembang.

Setelah lulus Sekolah Dasar, Tumin memindahkan anak-anaknya dari Pusdiklat Pusri untuk berlatih di PB.Klinik Sekanak masih di kota Palembang. Menjelang lulus dari tempat pendidikannya di SMP Negeri 27 Palembang,  pelatihnya menawari untuk mengikuti seleksi masuk di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan di Jakarta. Ditemani sang pelatih, Ahsan pun berangkat ke Ibukota. Puji syukur Ahsan lolos seleksi dan diterima sebagai siswa di SKO Ragunan.

Namun prestasi Ahsan di nomor tunggal ternyata memang semulus yang diharapkan. Ia masih belum mampu menembus kerasnya persaingan para pemain tunggal binaan klub-klub besar seperti PB.Djarum Kudus, PB.Jaya Raya Jakarta, PB.Tangkas, atau PB.Mutiara Bandung. Satu-satunya prestasi yang diraih Ahsan selama bersekolah di SKO Ragunan adalah ketika kelas 1 ia berhasil meraih posisi runner-up tunggal putra di kelompok taruna di Turnamen Jakarta Open

Ironisnya, di SKO Ragunan Ahsan tidak bisa tuntas menyelesaikan pendidikannya. Saat ia duduk di kelas 2 semester kedua muncul kebijakan baru SKO Ragunan hanya akan fokus melatih pemain tunggal putri di bawah asuhan Verawaty Fajrin, mantan tunggal putri Indonesia era 1970-an. Merasa tak ada lagi harapan, Ahsan pun meninggalkan SKO Ragunan meski ijazah belum lagi di tangan. Setelah itu Ahsan bergabung bersama PB.Bina Bangsa. Terkadang ia juga berlatih di Bogor di bawah bimbingan Sigit Pamungkas.

Selain bermain di nomor tunggal, Ahsan juga bermain rangkap bersama Bona Septano. Berbagai prestasi di event bulutangkis nasional diraih Ahsan/Bona. Puncaknya ketika mereka merebut gelar juara di Seleknas PBSI, tiket masuk ke Pelatnas PBSI di Cipayung pun berhasil dikantungi Ahsan pada akhir 2006. Beberapa bulan menjalani latihan di Pelatnas Cipayung Ahsan memutuskan pindah klub ke PB.Djarum.

"Sebetulnya sudah ditawari sejak beberapa waktu sebelumnya untuk masuk PB.Djarum, namun baru bisa terlaksana pada tahun 2007," kenang Ahsan.

Mengapa Ahsan memilih PB.Djarum, diakuinya karena ia membutuhkan klub mapan yang bisa melindungi dan memfasilitasi keperluan saya. Pilihan Ahsan memang sangat tepat dengan memilih PB.Djarum sebagai klub barunya. Kepindahannya dari PB.Bina Bangsa pun berlangsung mulus tanpa ganjalan apapun. Berpredikat sebagai anggota Pelatnas PBSI dengan status sebagai anggota PB.Djarum memang membuat Ahsan lebih nyaman dan tenang dalam menjalani program latihan dan pertandingan.

Babak baru kehidupan Ahsan sebagai anggota Pelatnas PBSI pun dimulai. Sejumlah nama sempat disandingkan dengan Ahsan. Dimulai dari Bona Septano, Hendra Setiawan, Rian Agung Saputro, Berry Angriawan, Angga Pratama, hingga kembali kepada Hendra Setiawan. Berbagai prestasi membanggakan berhasil ditoreh Ahsan bersama para pasangannya tersebut. Namun, dari seluruh pasangannya tersebut yang paling spektakuler adalah bersama Hendra Setiawan. Setidaknya dua gelar Juara Dunia serta dua gelar All England menjadi pelengkap perjalanan karir seorang Mohammad Ahsan.

Tak hanya dalam karir bulutangkis, Ahsan menjadi sosok idola di mata keluarga kecilnya.  Ahsan melepas masa lajangnya dengan menikahi wanita cantik bernama Christine Novitania dalam sebuah resepsi pernikahan dengan pakaian tradisional Palembang pada Minggu, 24 Maret 2013 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Ahsan mengenal sang isteri setelah dikenalkan salah seorang rekannya saat Christine menyaksikan penampilannya di Kejurnas PBSI 2008 di Hall Tennis Indoor, Senayan, Jakarta.

Ahsan memang tak sempat menikmati bulan madu layaknya pengantin baru pada umumnya. Pasalnya, tak sampai sepekan usai menikah Ahsan sudah harus mengikuti turnamen di luar negeri. Tanpa menunggu lama, putri pertama pasangan Ahsan dan Christine pun lahir di Jakarta, 3 Januari 2014, yang diberi nama Chayra Maritza Ahsan. Bayi dengan bobot 3,1 kg ini lahir secara normal di RS. Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, pada Jumat subuh.

Setahun berselang lahir putra kedua pada hari Jumat subuh, 12 Juni 2015 yang diberi nama King Arshaka Ahsan. Bayi laki-laki dengan bobot 2,7 kg ini lahir melalui operasi caesar di Eka Hospital Bumi Serpong Damai, Tangerang. Menurut Ahsan, sang isteri memang sengaja meminta operasi caesar karena trauma sakit yang dialami saat melahirkan anak pertama.

Kehadiran dua buah hati dalam rentang dua tahun beruntun memang membuat suasana di rumah keluarga kecil Ahsan makin semarak. Babah adalah panggilan kesayangan yang diberikan isteri dan kedua buah hatinya untuk Ahsan.

"Babah adalah sosok yang sabar dan taat dalam menjalankan perintah Allah. Jika Babah sedang bertanding keluar negeri memang kami selalu rindu, tapi kami menyadari Babah tidak sekadar sedang bertanding tapi memang pekerjaan beliau. Untuk itu kami selalu mendoakan agar Babah selalu diberikan kesehatan dan menang di setiap pertandingan. Tapi, kalaupun kalah buat kami itu bukan masalah," ungkap Christinne.

Sosok Ahsan yang taat beragama memang tak lepas dari didikan orang tuanya yang sampai saat ini pun masih terus mengingatkan agar selalu menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Tak hanya taat beribadah, kostum bertanding Ahsan pun mulai tampak berbeda, dalam artian lebih Islami.

"Saya hanya berusaha menerapkan ajaran agama saya, yakni agama Islam semampu yang saya bisa. Semuanya mengalir begitu saja. Jika perilaku saya di tengah lapangan kemudian menjadi viral di media sosial, saya tidak memikirkannya. Kalau ada yang menggangap baik dan mencontoh apa yang saya lakukan, Alhamdullillah," ungkap.

Ahsan memutuskan untuk "hijrah" sejak akhir 2015. Ia mengaku tidak ada peristiwa khusus atau hidayah apa-apa yang membuatnya mengambil keputusan untuk "hijrah". Semua itu terjadi di sela-sela penampilannya di turnamen Taiwan Open 2015. Sepulang dari Taiwan, Ahsan sudah mulai tampil berbeda di event-event yang diikutinya mulai tahun 2016. Beberapa bulan kemudian Ahsan menunaikan ibadah umrah. Dengan pertimbangan anak-anak belum bisa ditinggal, Christine tak bisa menemani sang suami ke tanah suci.

Pada awalnya sang isteri memang sempat terheran-heran dengan perubahan drastis dalam diri Ahsan. Nristamun, Christine tetap mendukung keputusan yang dipilih Ahsan. Sementara Christine masih belum bisa sepenuhnya mengikuti proses "hijrah" yang dijalani Ahsan.

"Ya saya memang tidak bisa langsung memaksa isteri untuk mengikuti apa yang saya lakukan. Dia memakai hijab pun dia masih buka tutup. Saya yakin pada saatnya nanti ia juga akan menjadi muslimah yang seutuhnya," ungkap Ahsan tentang isterinya.

Ahsan mengungkapkan dirinya mendapat adab-adab Islam yang dia praktikkan tersebut dari pengajian maupun dari buku-buku ataupun artikel di internet yang dibacanya.

"Saya ikut pengajian di masjid dekat rumah, selain itu saya juga menambah pengetahuan dari membaca baik dari buku-buku Islami ataupun artikel Islami di internet," jelasnya.

Sebagai pemain bulutangkis profesional dan menjadi andalan Indonesia, Ahsan mesti pandai mengatur waktu antara urusan dunia dan akhirat.

"Saya berusaha menjalankan apa yang saya bisa, jika ada yang mengikuti saya Alhamdulillah kalau itu baik, menjadi amal jariah bagi saya," tegas Ahsan.

Dengan berbagai kesuksesan yang diraihnya di arena bulutangkis, kehidupan ekonomi Ahsan saat ini tentu sudah jauh lebih baik. Ia tak perlu lagi merengek meminta dibelikan sepatu baru kepada ibunya. Sebaliknya, kini ia berupaya keras untuk membahagiakan orang tuanya yang sejak kecil berjuang mati-matian untuk menjadikannya pemain bulutangkis yang sukses. Salah satunya ia bersyukur sudah bisa memberangkatkan orang tuanya ke Tanah Suci. Orang tuanya yang memilih tetap tinggal di Palembang pun bisa setiap saat terbang ke Jakarta untuk menengok keluarga kecilnya.

"Sebetulnya saya sudah siapkan rumah di Jakarta tapi ibu tetap memilih tinggal di Palembang. Bagi saya tidak masalah, toh kapan saja mau ke Jakarta atau sebaliknya kami yang ke Palembang, saat ini tidak terlalu sulit. Apalagi Jakarta-Palembang hanya satu jam perjalanan naik pesawat," ujar Ahsan.

Kini, di usianya yang sudah melewati kepala tiga Ahsan belum akan berhenti. Sebaliknya, ia masih mengejar impiannya yang belum terwujud yakni medali emas di ajang Olimpiade Tokyo 2020. (Daryadi)

AHSAN & DATA DIRI

Nama : Mohammad Ahsan
Panggilan: Ahsan atau Babah
Kelahiran: Palembang, 7 September 1986
Tinggi : 173 cm
Berat : 70 kg
Pegangan raket : Kanan
Nama Ayah : Tumin Atmadi
Nama Ibu :Siti Rohanah
Saudara Kandung : Nisa Tartiela, Mohammad Asykuru
Nama Isteri: Christine Novitania
Nama Anak: Chayra Maritza Ahsan, King Arshaka Ahsan.

AHSAN & PRESTASI

Bersama Bona Septano:
1. Runner-up Japan Open Superseries 2008
2. Juara Bingo Bonanza Philippine Grand Prix Gold 2009
3. Juara Vietnam Grand Prix 2010
4. Juara Indonesia Grand Prix Gold 2010
5. Runner-up Yonex Open Japan 2011
6. Juara Bank Kaltim Indonesia Open GP Gold 2011
7. Medali Emas SEA Games 2011

Bersama Hendra Setiawan
1. Juara Maybank Malayasia Open Superseries 2013
2. Semi Final Yonex All England 2013
3. Runner-up Yonex Australian Open Grand Prix Gold 2013
4. Juara Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2013
5. Juara Li Ning Singapore Open Superseries 2013
6. Juara BWF World Badminton Championship 2013
7. Juara Yonex Japan Open Superseries 2013
8. Juara BWF Superseries Final 2013
9. Juara All England Badminton Championship 2014
10.Runner-up Yonex Japan Open Superseries 2014
11.Runner-up BCA Indonesia Open Superseries Premier 2014
12.Juara Hongkong Open Superseries 2014
13.Medali Emas Asian Games 2014 Incheon
14. Juara Maybank Malaysia Open 2015
15.Runner-up Badminton Asia Championship 2016
16.Juara Total BWF World Chamionship 2016
17.Juara BWF Superseries Final Dubai 2016
18.Juara All England 2019

Bersama Rian Agung Saputro:
1. Juara China International Challenge 2017
2. Runner-up Kejuaraan Dunia

 

« Back to News