Jonatan Christie: Gelar ini Berkat dari Tuhan

Rabu, 12 September 2018 10:03:09

 

Majalahbulutangkis.com- Ajang multi event seperti selalu memberi hoki buat Jonatan Christie. Setelah meraih emas SEA Games 2017 Kuala Lumpur, kini ia juga meraih emas tunggal putra di Asian Games XVIII 2018 Jakarta.Menjadi juara ternyata tak selalu harus lebih dulu menjadi pemain hebat yang tak pernah terkalahkan di setiap event yang diikutinya.

Di samping itu ternyata juga ada faktor lain yang sering orang lupakan, yakni keberuntungan. Bicara tentang keberuntungan, di situlah tangan-tangan Tuhan berperan mengantarkan seorang pemain ke podium juara.

Itulah gambaran sosok seorang Jonatan Christie. Bukan hanya publik bulutangkis yang seperti dibuat tak percaya jika Jojo -sapaan akrab Jonatan-
mampu meraih medali emas tunggal putra di ajang Asian Games XVIII 2018 di Istora Senayan, Jakarta, sang pemain sendiri pun mengaku semua itu masih
seperti mimpi.

"Saya benar-benar tak pernah menyangka bisa meraih medali emas tunggal putra. Semua ini saya anggap sebagai berkat dari Tuhan yang diberikan kepada
saya. Ketika Tuhan berkehendak maka siapapun tidak bisa menghalangi. Pelatih saya pun bilang, setiap pemain punya berkatnya masing-masing," ungkap Jojo.

Pebulutangkis binaan PB.Tangkas ini memang tak masuk dalam daftar hitungan pemain-pemain yang diperkirakan bakal berjaya di Asian Games 2018.

Maklum, kecuali Malaysia yang urung mengutus andalannya Lee Chong Wei, seluruh negara Asia mengutus pemain terbaiknya, seperti Kento Momota (Jepang), Shi Yuqi dan Chen Long (Tiongkok), Son Wan Ho (Korsel), Srikanth Kidambi (India), serta Chou Tien Chen (China Taipei).

Dari kubu Indonesia sendiri Anthony Sinisuka Ginting juga lebih diharapkan ketimbang Jojo. Tak hanya dari sisi peringkat Anthony yang jauh lebih baik, prestasinya pun memang lebih mengkilap dibanding Jojo. Wajar jika Anthony yang Januari lalu memenangkan gelar Daihatsu Indonesia Masters 2018 lebih diunggulkan.

Pesimisme terhadap Jojo tentu bukan tanpa alasan. Rapor Jojo di turnamen-turnamen individu yang digelar BWF memang lebih banyak angka merah ketimbang angka biru. Rekam jejak Jojo memperlihatkan belum ada satu pun gelar bergengsi sekelas Superseries yang bisa ia raih. Bahkan, pada level turnamen yang lebih rendah Grand Prix Gold dan Grand Prix, tak sekali pun bisa dimenangkan Jojo.

Padahal, kesempatan yang diberikan PBSI untuk Jojo tak ada kurangnya. Pelatih Pelatnas PBSI yang menangani tunggal putra saat ini pun Hendry Saputra yang notabene merupakan pelatihnya sejak yunior di PB.Tangkas Jakarta. Namun, tak urung prestasi Jojo seperti jalan di tempat.

Di musim 2017 misalnya, Jojo tampil di 17 turnamen level Grand Prix dan Superseries namun tak satu pun yang berbuah gelar juara. Sempat menyodok hingga ke final di ajang Korea Open Superseries 2017, namun ambisinya digagalkan rekan sendiri Anthony Sinisuka Ginting di laga final 13-21, 21-19, 20-22. Begitu pula di level yang lebih rendah di Thailand Open GP 2017, di final Jojo tersandung di tangan Sai Praneeth (India) 21-17, 18-21, 19-21.

Setali tiga uang di musim 2018. Dari sembilan turnamen kelas atas yang diikuti Jojo sejak Januari lalu belum satu pun yang berbuah manis. Satu-satunya kesempatan lolos ke final di turnamen New Zealand Open 2018 juga gagal menorehkan gelar juara. Ambisinya diredam oleh pemain gaek asal Tiongkok, Lin Dan yang mengalahkannya dua game langsung 14-21, 19-21.

Namun, Jojo punya alibi untuk rentetan kegagalan yang dialaminya di berbagai turnamen perorangan yang telah diikutinya selama bergabung di Pelatnas PBSI lima tahun belakangan ini.

"Mungkin Tuhan belum memberikan saya berkat untuk meraih gelar juara di turnamen perorangan, sebaliknya saya justru diberikan berkat di multi event seperti SEA Games dan Asian Games. Coba saja lihat beberapa pemain lain yang punya prestasi hebat di turnamen perorangan seperti Lee Chong Wei yang sudah mengoleksi ratusan gelar perorangan tapi dia belum pernah meraih medali emas di Asian Games. Jadi, saya yakin Tuhan sudah menentukan jalannya masing-masing untuk setiap pemain," tutur Jojo.

Untuk itulah ketika ditanya untuk siapa medali emas dipersembahkan, Jojo menjawab gelar ini yang pertama dipersembahkan kepada Tuhan yang telah memberikan berkat untuknya. Selain itu tentunya juga untuk keluarga besarnya serta para penonton yang sudah setia mendukungnya baik yang di Istora Senayan maupun yang di rumah.

"Sehari sebelum final ketika berkunjung ke hotel, papa juga meminta saya bisa mempersembahkan medali emas agar kita bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama di Istora. Puji syukur saya bisa penuhi permintaan papa," tukas Jojo.

Inilah kedua kali Jojo bisa mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah sebelumnya ia juga meraih medali emas di ajang SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sebagai rasa syukur atas berkat yang telah Tuhan berikan untuknya Jojo pun bertekad untuk berbagi atas bonus sebesar Rp 1,5 miliar yang diterimanya dari pemerintah sebagai peraih medali emas. Selain kepada orang-orang terdekat yang telah membantu suksesnya, Jojo tak lupa ingin mendermakan sebagian rezekinya kepada korban gempa bumi di Lombok.

Jojo tentu tak ingin medali emas Asian Games 2018 sebagai akhir dari karirnya. Sebaliknya, ia ingin terus berlari mengejar gelar-gelar yang lain sekaligus membuktikan jika ia juga mampu berjaya di turnamen-turnamen perorangan. Jojo pun tak bisa berlama-lama menikmati euforia sebagai juara di Asian Games 2018, pasalnya hanya rentang sepekan ia sudah harus berlaga di turnamen BWF Japan Open. (Daryadi)

JONATAN & DATA DIRI

Nama Lengkap : Jonatan Christie
Panggilan    : Jojo
Kelahiran    : Jakarta, 15 September 1997
Tinggi          : 175 cm
Berat         : 75 kg
Pegangan raket : Kanan
Peringkat    : 15 BWF
Klub         : PB.Tangkas
Ayah         : Andreas Adi Siswa
Ibu         : Marianti Djaja

JONATAN & PRESTASI

Juara I kejuaraan daerah (kejurda) DKI Jakarta, 2008
Juara I kejuaraan usia dini BM-77,2008
Juara I kejuaraan Astec, 2008
Juara I Olimpiade Olahraga dan Siswa Nasional (O2SN), 2008
Juara I “Tetra Pak Open Milk Cup”, 2008.
Medali Emas Olimpiade Pelajar Sekolah Dasar se-Asia Tenggara, Jakarta, 2008
Juara Junior Asia U-15 Ichiba, Jepang, 2010
Juara ASEAN School 2013
Medali Perak Beregu World Junior Championships 2013, 2014
Juara Indonesia International Challenge 2013
Runner Up Indonesia International Challenge 2014
Juara International Challenge Swiss Open 2014
Medali Emas SEA Games Beregu Putra 2015
Medali Emas Tunggal Putra SEA Games 2017
Medali Emas Tunggal Putra Asian Games 2018


RAPOR JONATAN CHRISTIE 2018

1. Malaysia Masters, 16-21 Januari 2018
Perempat final vs Viktor Axelsen (Denmark) 15-21, 21-19, 12-21

2. Indonesia Masters, 23-28 Januari 2018
Babak 1 vs Son Wan Ho (Korsel) 15-21, 10-21

3. German Open, 6-11 Maret 2018
Perempat final vs Kenta Nishimoto (Jepang) 10-21, 20-22

4. All England, 14-18 Maret 2018
Babak 2 vs Son Wan Ho (Korsel) 16-21, 12-21

5. Kejuaraan Asia, 24-29 April 2018
Babak 2 vs Ng Ka Long Angus (Hong Kong) 19-21, 21-12, 15-21

6. New Zealand Open, 1-6 Mei 2018
Final vs Lin Dan (Tiongkok) 14-21, 19-21

7. Malaysia Open, 26 Juni-1 Juli 2018
Babak 2 vs Brice Leverdez (Prancis) 21-10, 17-21, 23-25

8. Indonesia Open, 3-8 Juli 2018
Babak 1 vs Viktor Axelsen (Denmark) 10-21, 19-21

9. World Championships, 30 Juli-5 Agustus 2018
Babak 1 vs Daren Liew (Malaysia) 12-21, 16-21

10.Asian Games XVIII, 23-28 Agustus 2018
Final vs Chou Tien Chen (China Taipei) 21-18, 20-22, 21-15

 

« Back to News