Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay, Dari Tomohon Menatap Dunia

Kamis, 04 Januari 2018 15:17:37

 

Jika Provinsi Sulawesi Utara dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan pebulutangkis hebat memang bukan cerita baru. Nama-nama seperti Lili Tampi, Jo Novita, Flandi Limpele, Greysia Polii, serta Liliyana Natsir adalah nama-nama besar yang pernah lahir di provinsi di ujung utara Pulau Sulawesi ini.

Patah tumbuh hilang berganti. Saat bunga-bunga tua mulai layu, kuncup-kuncup muda pun kini mulai bermekaran. Salah satu yang kini mulai merangkak ke percaturan bulutangkis nasional adalah Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay.

Nama pebulutangkis kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 15 Januari 2000 ini mulai mencuri perhatian di pengujung 2016 lalu saat berlangsungnya event Master Junior 2016. Ikhsan belum genap berusia 17 tahun sukses memenangkan gelar di kelompok taruna atau 19 tahun ke bawah.

Prestasinya ini dianggap kejutan cukup beralasan karena ia mampu mengalahkan pesaing-pesaingnya yang rata-rata berasal dari klub-klub bulutangkis ternama di Indonesia. Sementara Ikhsan bukan datang dari klub hebat. Ia hanya seorang murid kelas 11 yang ditempa di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta.

Tapi, orang bijak bilang, di balik sukses seorang atlet bulutangkis pasti ada pelatih bertangan dingin yang menempanya. Dia adalah Luluk Hadiyanto. Mantan pebulutangkis nasional spesialis ganda putra inilah yang membentuk Ikhsan menjadi pemain andal. Mantan pasangan ganda putra nomor 1 dunia 2004 bersama Alvent Yulianto ini pula yang memboyong Ikhsan dari kampung halamannya di Tomohon ke Ibukota pada 2015.

Ikhsan pun mengaku, sebetulnya itu bukan kali pertama ia datang ke tanah Jawa. Sebelumnya pada tahun 2011 ia sempat dikirim berlatih ke PB.Mutiara Cardinal Bandung.

"Tapi, di Bandung saya cuma tahan dua bulan karena rasanya ingin pulang terus. Mungkin, saat itu saya masih terlalu kecil," kenang Ikhsan yang punya nama unik ini.

Namanya memang perpaduan kebhinekaan dalam keluarganya. Nama Ikhsan diberikan oleh kakek dari ayahnya yang berasal dari keluarga muslim. Sedangkan nama baptis Imanuel berasal dari keluarga ibunya yang Nasrani. Ikhsan sendiri mengikuti keyakinan sang ibu.

Hanya dua bulan berlatih di Bandung, Ikhsan akhirnya memilih kembali pulang ke klub asalnya di Tomohon yakni PB.Mahawu. Nama klub ini diambil dari nama sebuah gunung berapi yang ada di kampung halamannya.

Dengan fasilitas seadanya di Tomohon, Ikhsan terus berlatih. Pada satu kesempatan ia tampil di Kejurnas Antar PPLP 2014 di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Prestasinya tak terlalu buruk ia berhasil menempati posisi runner-up. Selepas tampil di Musi Banyuasin ini ia mendapat tawaran dari Luluk Hadiyanto untuk bergabung di SKO Ragunan. Kebetulan Luluk adalah pelatih kepala di sekolah atlet yang pernah melahirkan banyak atlet ternama, tak hanya di cabang olahraga bulutangkis.

Mendapat tawaran tersebut Ikhsan sempat menyambangi GOR Bulutangkis SKO di kawasan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Namun, seleranya sontak hilang meski ia tahu di gedung itu pernah melahirkan pemain-pemain sekaliber Icuk Sugiarto, Susy Susanti, serta Alan Budikusuma.

"Terus terang saat itu saya langsung tidak tertarik karena gedungnya memang kumuh dan tidak terawat. Saya pun memilih tetap berlatih di Tomohon," ujar Ikhsan.

Namun, Luluk tak menyerah begitu saja. Saat berlangsungnya Sirnas Djarum di Manado, Ikhsan tampil lagi namun kalah dari pemain andalan PB.Exist Jakarta, Gatjra Piliang Cupu di babak kedua. Luluk kembali menyodorkan tawaran.

"Bahkan, saat itu dengan dana saya pribadi saya siapkan tiket pulang pergi Jakarta-Manado. Jika dalam dua minggu tidak betah di Ragunan, dia boleh pulang lagi ke Tomohon," imbuh Luluk Hadiyanto.

Ikhsan pun luluh dengan tawaran yang diberikan Luluk, ditambah kekecewaannya kalah dari Gatjra di babak kedua Sirnas Djarum Manado, ia pun menerima tawaran Luluk untuk hijrah ke SKO Ragunan.

"Saat itu saya cuma berpikir kalau ingin maju memang tak ada pilihan harus ke Jawa. Jika terus bertahan di Tomohon kemampuan saya pasti akan seperti ini saja," ungkap Ikhsan lagi.

Dengan doa restu dari kedua orang tua serta pelatih yang menggemblengnya sejak kecil Ikhsan pun memulai petualangannya lewat jalur SKO Ragunan di bawah tempaan Luluk Hadiyanto terhitung sejak 24 Juli 2015. Jadwalnya sudah tertata rapi. Pagi ia belajar di kelas, selepas makan siang hingga sore berlatih bulutangkis. Rekannya di SKO Ragunan memang tak banyak. Mengingat kapasitas yang terbatas, SKO Ragunan cuma bisa menampung 10 atlet putra dan 10 atlet putri.

Pilihannya meninggalkan Tomohon perlahan mulai terlihat kebenarannya. Ikhsan terus mencuri perhatian dengan berbagai prestasi yang ditorehnya di level nasional dan internasional sejak ia masuk SKO Ragunan hingga pengujung 2016.

Memasuki periode 2017 Ikhsan makin memperlihatkan jati dirinya. Terlebih, setelah mendapatkan dukungan dari sponsor Eagle, Ikhsan pun mulai merambah ke turnamen-turnamen di mancanegara. Kendala terbesar di SKO Ragunan memang keterbatasan dana untuk memberangkatkan atletnya ke luar negeri. SKO Ragunan yang didukung oleh Kemenpora hanya mampu membiayai atletnya bertanding di dalam negeri.

Kiprahnya di turnamen individu senior 2017 diawali dengan tampil di event challenge di Brasil International Badminton Cup, 8-12 Maret. Merangkak dari babak kualifikasi, Ikhsan di luar dugaan mampu menembus ke babak perempat final. Langkahnya dihentikan Jason Anthony Ho Shue (Kanada).

Sepekan berikutnya ia tampil di Peru International Series. Kembali merangkak dari kualifikasi, Ikhsan sukses menembus hingga ke babak final. Di laga puncak ia dikalahkan Luis Ramon Garrido (Meksiko).

Meski belum mampu memboyong gelar juara namun pulang dari Amerika Latin Ikhsan mengantungi banyak poin. Berangkat tanpa peringkat, pulang ia sudah berhasil menembus peringkat 300 BWF.

Penampilannya kian meningkat. Pemain Pelatnas yang lebih senior Panji Ahmad Maulana ikut jadi korbannya di ajang USM International Challenge. Prestasi yang diperlihatkan Ikhsan tak pelak memikat sejumlah klub besar untuk merekrutnya bergabung. Maklum, anak-anak didik SKO Ragunan umumnya memang berasal dari klub-klub kecil di daerah, termasuk Ikhsan yang berasal dari klub kecil PB.Mahawu di Tomohon dan PPLP Sulut.

Pilihan Ikhsan pun jatuh ke PB.Djarum yang sejak Mei 2017 lalu meminangnya. Meski begitu, Ikhsan tak otomatis hijrah ke markas PB.Djarum di Kudus karena ia masih harus menyelesaikan sekolahnya di SKO Ragunan yang masih tersisa beberapa bulan lagi. Karena itu proses latihannya tetap dilakukan di SKO Ragunan.

Namun, setelah resmi bergabung bersama PB.Djarum sejak November 2017,  Ikhsan setidaknya sudah ikut andil menyumbang empat gelar juara di tahun 2017, masing-masing juara tunggal putra Malaysia International Junior Open 2017 dan Kejurnas PBSI 2017 serta dua event beregu di Pembangunan Jaya Cup serta Superliga Junior.

Berkat sejumlah prestasinya itu, di pengujung tahun 2017 PB.PBSI mengeluarkan Surat Keputusan untuk memanggilnya bergabung di Pelatnas Pratama. Sejatinya bukan kali pertama ia dipanggil ke Cipayung. Di awal 2017 Ikhsan juga sudah pernah dipanggil ke Pelatnas namun masih berstatus pemain magang. Sedangkan untuk pemanggilan kali ini meningkat menjadi anggota Pelatnas Utama di sektor pratama.

"Ini memang impian saya sejak meninggalkan kampung halaman. Saya bertekad tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang diberikan PBSI untuk bergabung di Pelatnas," tegas Ikhsan.

Ibarat pepatah orang Sulawesi,"Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang". Pepatah itu punya makna, sekali kaki melangkah untuk berjuang pantang pulang tanpa membawa hasil. (Daryadi)

Ikhsan & Data Diri

Nama: Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay
Kelahiran: Tomohon, Sulawesi Utara, 15 Januari 2000
Tinggi : 174 cm
Berat : 60 kg
Spesilisasi: Tunggal putra
Tangan bermain : Kanan
Sekolah: Kelas 12 SKO Ragunan
Klub : PB.Djarum (sejak Maret 2017)

Ikhsan & Prestasi
Juara 3 U-17 Djarum Sirnas Yogyakarta 2015
Juara 1 U-17 Djarum Sirnas NTB 2015
Juara 3 U-17 OUE Singapore International Youth 2015
Runner-up U-17 APACS Junior Masters 2015
Juara 1 U-17 Djarum Sirnas Banjarmasin 2016
Juara 3 U-19 Djarum Sirnas Makassar 2016
Juara 3 U-19 USM Semarang 2016
Runner-up Beregu ASEAN School Games 2016
Juara 1 U-19 Djarum Sirnas Jawa Tengah
Juara 1 U-19 Djarum Sirnas premier Jawa Timur
Juara 1 U-19 Pertamina Open 2016 Juara
Runner-up Peru International Challenge 2017
Juara 1 Malaysia International Junior Open 2017
Juara 1 Kejurnas PBSI 2017
Juara 1 Beregu Pembangunan Jaya Cup 2017
Juara 1 Beregu Superliga Junior 2017

 

 

« Back to News