PODIUM KEDUA GREGORIA DI AMONG PROGO

Rabu, 15 Nov 2017 06:32:02

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v

MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.

Tak sia-sia sekitar 4.700 penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.

Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.

Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.

GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.

Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.

Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.

Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.

Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.

Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.

Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.

“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.

“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.

Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.

“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.

Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.

Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.

“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.

“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya. v


MBI-Gregoria Mariska Tunjung mempersembahkan medali emas kedua Indonesia di nomor tunggal putri BWF World Junior Championships dalam kurun 25 tahun.
Tak sia-sia sekitar 4.700  penonton memadati GOR Among Rogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (22/10). Tepat pada hari itu, final Blibli.com Yonex-Sunrise BWF World Junior Championships (WJC) atau Kejuaraan Dunia Yunior 2017 digelar. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tiga di antaranya menampilkan pemain Indonesia.
Bahkan, di nomor ganda campuran terjadi all-Indonesian finals. Namun, yang paling ditunggu pecinta bulu tangkis Yogyakarta dan sekitarnya adalah final tunggal putri. Jagoan tuan rumah Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, berhadapan dengan utusan dari Tiongkok, Han Yue.
Publik ‘Kota Gudeg’ –sebutan Yogyakarta– pada khususnya dan Indonesia pada umumnya jelas sangat berharap Gregoria bakal juara. Maklum, kali terakhir tunggal putri ‘Merah Putih’ menjadi juara dunia yunior terjadi pada 1992 atau 25 tahun silam di Jakarta melalui Kristin Junita.
GOR Among Rogo seolah memberikan keberuntungan khusus buat Gregoria. Dua tahun lalu, di gedung olahraga yang terletak di Semaki, Umbulharjo, ini, Gregoria meraih medali emas di ajang Jaya Raya Indonesia Junior International Grand Prix.
Di WJC 2017, Jorji –sapaan Gregoria– mengalahkan unggulan 3 Han Yue di partai final. Pada game pertama, Jorji menghajar atlet Tiongkok ini dengan relatif mudah, 21-13. Namun, pada game kedua, situasi terbalik. Han Yue menaklukkan Jorji dengan skor serupa.
Game ketiga menyajikan pertan­dingan super sengit. Jorji dan Han Yue harus melalui tiga deuce sebelum Jorji menyelesaikan game penentu tersebut 24-22. Total, Jorji butuh 1 jam 4 menit untuk menghentikan perlawanan Han Yue.
Namun, ini bukan waktu terpanjang yang dilalui Jorji di WJC 2017. Pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 11 Agustus 1999, ini menghabiskan 1 jam 7 menit untuk menyingkirkan pemain Tiongkok lainnya, Wang Zhiyi, juga de­ngan rubber game di babak 16 besar.
Fenomena aneh memang diakui Jorji dialaminya di Among Rogo. Selain Han Yue dan Wang, satu pemain Tiongkok lain yang dihadapinya juga memaksanya bermain rubber game dengan waktu 1 jam lebih.
Hanya ketiga pemain Tiongkok ini yang mampu memaksa Jorji bermain lama. Empat lawan lainnya dihentikan Jorji dengan dua game dengan waktu tak lebih dari 40 menit. Bahkan, Jorji mendepak wakil Norwegia, Marie Christensen, 21-6, 21-4 hanya dalam waktu 15 menit.
Menurut Jorji, para pemain Tiongkok tersebut telah mempelajari cara bermainnya. Ini bisa dilihat dari perubahan permainan Han Yue. Jorji dengan mudah mengalahkan Han Yue 21-17, 21-17 saat Indonesia bertemu Tiongkok di beregu campuran.
“Han Yue mengubah permainannya, berbeda dari saat di beregu. Di sini (final perorangan), yang lebih banyak menahan diri untuk tak sering menyerang. Justru ini membuat saya kesulitan,” kata Jorji yang mengaku bertipe pemain defensif dan gemar bermain reli panjang.
“Han Yue lebih ulet (dibandingkan di beregu). Saat di beregu saya bisa me­ngalahkannya straght game. Sekarang ia bisa lebih tahan bermain reli. Ini mungkin pelatih mereka sudah mengetahui permainan saya. Di 16 besar, semifinal, dan final, saya bertemu pemain Tiongkok. Mereka berusaha memperlambat permainan. Namun, saya juga tahu bahwa mereka akan menerapkan strategi yang sama terhadap saya,” ucap Jorji yang selain berhak atas medali emas, juga mendapat Piala Eye Level.
Han Yue mengklaim tekanan sebagai harapan terakhir Tiongkok untuk meraih medali emas dan bermain di partai terakhir di depan ribuan publik tuan rumah mempengaruhi penampilannya di game pertama. Meski bisa mengatasi itu di dua game berikutnya, Han Yue tak menampik pada akhirnya kualitas tinggi yang diperlihatkan Jorji yang menentukan hasil pertandingan.
“Beginilah adanya. Ini yang terbaik yang bisa saya lakukan sekarang. Pada akhirnya, kami bermain sangat cepat dan saya merasa tertekan. Gregoria bermain lebih kuat daripada pada pertemuan kami sebelumnya,” kata Han Yu mengakui.
Dari empat keterlibatan di Kejuaraan Dunia Yunior, ini adalah capaian terbaik Jorji. Sayangnya, ini dipastikan menjadi medali emas kejuaraan dunia pertama dan terakhirnya di level yunior. Tahun depan, Jorji sudah harus fokus merenda prestasi di level senior.
Jorji mengaku siap untuk menuai kesuksesan seperti di level yunior. Namun, ia sadar masih banyak pembenahan dan peningkatan yang harus dilakukannya dari sisi kualitas permainannya maupun fisiknya.
“Persaingan di level senior saya rasa kurang lebih sama. Saya sudah punya gambaran akan seperti apa persaingan melawan para pemain yunior yang selevel saya atau para pemain yang lebih senior,” kata Jorji.
“Saat ini, saya hanya ingin menikmati dulu kemenangan saya. Sebab, sebelum pertandingan final, Susy (Susanti, Manajer tim Indonesia di WJC 2017) bilang kepada saya, ini kesempatan terakhir saya, jangan sampai disia-siakan. Jadi, saya sangat bangga akhirnya bisa juara,” pungkasnya.