Badminton Batam Open 2022: Gegap Gempita dalam Keprihatinan
Kamis, 24 Maret 2022 10:49:49
Majalahbulutangkis.com- Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Badminton Batam Open 2022 telah tuntas dilaksanakan pada 14-19 Maret.
Gelanggang Olahraga (GOR) Banda Baru, Sei Panas, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan tak kurang dari 683 pebulutangkis dan 150 ofisial dari 16 provinsi di Indonesia.
Kejuaraan yang mempertandingkan 23 kategori dengan hadiah total Rp250 juta ini diklaim sukses besar. Baik dari sisi kompetisi maupun pariwisata.
Dari sisi pariwisata dan geliat ekonomi, banyak hotel yang kebanjiran tamu. Begitu juga angkutan transportasi umum dan usaha rental mobil lokal. Ini jelas jadi indikasi bagus seusai Batam terkena hantaman berat pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.
"Kita berharap event seperti ini terus dapat dukungan dari semua pihak karena dampaknya dirasakan secara bersama-sama," kata Surya Wijaya, Direktur Utama PT Cakra Bramastra Internasional, selaku event organizer Kejurnas Badminton Batam Open 2022.
Dari sisi kompetisi, muncul atlet-atlet belia berbakat yang layak mendapat apresiasi tinggi. Sebut saja, Alexander Jordan/Alif Fajdary dari klub Daihatsu Yonex Sunrise Candra Wijaya (DYSCW) yang menjuarai sektor Ganda Taruna Putra.
DYSCW juga mendapat hasil positif di kategori dewasa, yakni Ricky Karanda yang berpasangan dengan Tiara Rosalia Nuraidah dari klub Berkat Abadi (finalis Ganda Campuran Dewasa) dan Galuh Dwi Putra yang bertandem dengan Agatha Imanuela dari PB Djarum (semifinalis Ganda Campuran Dewasa).
Sayangnya, gegap gempita perhelatan Kejurnas Badminton Batam Open 2022 hanya dirasakan secara lokal. Tak ada berita besar-besaran secara nasional tentang kejuaraan yang baru digelar di Batam lagi setelah 20 tahun vakum tersebut.
Ini menjadi keprihatinan sekaligus kegelisahan Candra Wijaya, pemilik klub DYSCW yang bermarkas di Serpong, Tangerang Selatan.
Peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 dan juara dunia Glasgow 1997 itu menyentil PP PBSI, yang mengurusi perbulutangkisan nasional, untuk lebih peduli dengan event-event berskala nasional dan pembinaan di usia dini.
"Semangat, usaha dan perjuangan kita tak boleh kendur, sekadar informasi sekaligus Pekerjaan Rumah (PR) untuk kita semua, khususnya PP PBSI yang hingga kini masih belum mensosialisasikan, memiliki atau melaksanakan kalender kejuaraan nasional, malahan yang menjamur sekarang adalah kejuaraan-kejuaraan open/swasta nasional yang itu pun hanya 'meminjam' Logo dan SI (Sistem Informasi) PBSI. Namun, tak ada perhitungan Ranking Nasional Si Atlet, sungguh sangat memprihatinkan buat kami sebagai mantan atlet, pelatih atau pembina bulutangkis," tulis mantan atlet ganda putra nasional itu di Instagram, @cwibc1.
"Apakah yang dilihat, yang diperhatikan, yang diperlukan hanya teman-teman atlet yang ada di Pelatnas saja? Lupa bila PP PBSI itu sesungguhnya adalah wadah atau milik kita bersama yang perlu terus sinergi guna mempersiapkan regenerasi pemain-pemain berikutnya.
"Kepikir betapa sullliiitt-nya mencetak seorang Juara kelas Dunia, sejak umur 5/6 tahun sudah harus mulai berlatih kembang kempis, memaksakan diri, siap berkorban, mempertaruhkan masa depan, perlu waktu 10-15 tahun bahkan lebih agar bisa menjadi pemain nasional atau pemain Top Dunia, dan ini tak boleh salah penanganan atau bergantung dari pengurus/pejabat dengan masa bakti hanya 5 tahun."
Sekarang tinggal menunggu sikap dari PP PBSI terhadap curahan hati Candra. Jika memang sepaham, semestinya PP PBSI bisa mulai serius dalam menggelar event-event nasional lagi demi menjaring Candra-Candra muda.
(Indra)
Sumber foto: Celebrities.id